Showing posts with label Tugas. Show all posts
Showing posts with label Tugas. Show all posts

Friday, July 5, 2013

Contoh Spoof "My Blackberry is not working"


My Blackberry is not Working

One day, there was a seller and his customer. They talked about blackberry mobile phone which was popular in that time. They looked like serious.

“What do you think about blackberry?” the customer asked.
“ I think it’s a luxurious thing, then we can call someone, send message, take a picture by it”
“ But, I think that isn’t the overabundances of blackberry. They are available in the general mobile phone.” The customer protested.
“May be about BBM.”
“What is that?  Is that a one kind of petrol?”
“No!! That is one of facilities  at Blackberry.” Said the seller angrily.
“Are you sure? I don’t know about it.”
“Hmm, my other customers always say that it is very useful. So, they buy Blackberry.” the seller answered. Then the customer affirmed. “It isn’t true. I have many blackberries, but all of it doesn’t useful.”
“Wow, you must be rich man. By the way, What happened ? Is your blackberry  faulty?” The seller felt astonished
“No! My Blackberry is new.” said the customer.
“So, what’s your problem?”
“Look this, My Blackberry is not working.” said the customer guilty,  and he showed his Blackberry (Fruit). The seller was bored and  irritated


Sunday, April 21, 2013

Naskah Drama "PARIS"


Sebenarnya ini tugas sekolahku yang harus aku kumpulkan ke Bp. Joko Haryanto S.Pd. tapi karena blogku merupakan map tuhas ku, so this is my task.... I wanna share my task..... 

PARIS
oleh : Febryana Nur Safitri

Diruang tamu, Adelia sedang membaca buku tentang Paris. Ruang tamu yang cukup sederhana itu hanya terdapat  satu meja yang diatasnya terdapat vas bunga , kamus Bahasa Perancis yang sudah lusuh dan secangkir kopi. Didinding ruang tamu, terdapat gambar Menara Eiffel yang sudah mulai kusam. Sesekali dia memandangi gambar menara Eiffel tersebut.
Adelia           : (MENUTUP BUKU YANG SEDANG DIBACA)
“Mimpi. Katanya hidup berawal dari mimpi. Macam mana aku ini, untuk bermimpi saja aku tidak berani. Hidup ini berat kujalani. Tak sempat aku memikirkan mimpiku yang terlewat tinggi itu. Saking tingginya aku tak berani melanjutkannya. Hahaha... macam mana pula aku ini, anak orang miskin yang selalu berharap tentang mimpi. Mustahil!”
(BERDIRI. MAJU BEBERAPA LANGKAH)
“Huh... aku sudah bisa meraih mimpiku untuk bersama Mas Arkha. Untuk apa aku bermimpi untuk benda mati yang selama ini aku mimpikan siang dan malam. Hahaha. Tapi, Menara itu. Menara itu yang aku mau.”
(IBU MEMASUKI PANGGUNG)
Ibu      : (MENGGUNAKAN JARIT DAN BAJU TRADISIONAL JAWA)
“Adelia, kamu kenapa? Sedari tadi hanya berbicara sendiri. Apa kamu mulai gila?”
(MENGGELUS ADELIA)
Adelia           : (MENDEKATI IBU)
“Ibu ini bisa saja. Anak sendiri kok dibilang mulai tidak waras. Apa Ibu mau, anak Ibu yang paling cantik ini jadi tidak waras beneran?”
Ibu      : (MENDORONG PELAN ADEL)
“Hush...Kamu tuh ngawur. Mana mau Ibu punya anak tidak waras. Kalau kamu punya masalah, jangan cuma dipendam sendiri. Cerita to sama Ibumu ini.”
Adelia           : (MENUNDUK)
“Bu, apa salah bila Adel menginginkan Mas Arkha dan Menara Eiffel?”
Ibu        : “Oalah nduk, Ibumu ini tidak tahu apa yang kamu maksud. Yang penting apa yang kamu pilih itu baik, Ibu bakal mendukungmu.”
Adelia                       : (MEMELUK IBU)
“Adelia sangat bingung, Bu. Apa yang nantinya harus Adel katakan.”
Ibu      : (MEMBAWA GELAS BERISI TEH DARI MEJA TAMU)
              “Sekarang pikir dulu, kamu pilih mana yang terbaik buat kamu. Kalaupun kamu pilih menara itu dan kamu harus putus, itu pilihanmu. Ingat, di dunia ini, laki-laki bukan hanya Arkha. Wes, Ibu mau ke dapur dulu.”
Adelia           : “Hah... aku jadi tambah pusing. Harus ku apakan formulir itu. Jika formulir itu aku isi lalu kukirim, pasti Mas Arkha akan menolak keputusanku dan ia pasti akan mengakhiri hubungan ini.”
(BERJALAN MONDAR-MANDIR)
            “Kenapa aku dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama aku inginkan. Disatu sisi tak mau kehilangan belahan jiwa, disisi lain tak mau aku sia-siakan kesempatan emas itu. Mas Arkha... Mas Arkha... Kapan aku bisa meyakinkanmu, kalau aku akan selalu setia.”
            (MEMBERESI BUKU YANG BERADA DI MEJA)
            “Susah. Ya sudahlah... mending aku mandi saja.”
            (KELUAR DARI PANGGUNG)
...........................................
Ibu      :(MEMASUKI PANGGUNG SAMBIL MEMBAWA SECANGKIR KOPI. DISANA BAPAK SEDANG MEMBACA KORAN)
            “Ini anak kita kok, bawaannya stress terus yo, Pak. Istilah anak mudanya apa itu pak? Aduh Ibu lupa”
            (SAMBIL MEMEGANG KEPALA, MENCOBA MENGINGAT INGAT)
Bapak           : (MENGHENTIKAN MEMBACA KORAN)
            “Istilah opo to, Bu?”
Ibu      : “Itu loh pak, yang sering diiklan TV”
Bapak           : “Oalah... galau, Bu”
            (TERTAWA)
Ibu      : “Nah, itu Pak. Galau. Anak kita itu sering melamun sendiri, ngomong sendiri sambil membawa selembar kertas,Pak. Kadang-kadang Ibu lihat dia sering banget melihat gambar menara itu tu , Pak. Menara Apel.”
            (MENUNJUK KE GAMBAR MENARA EIFFEL DIDINDING RUANG TAMU)
Bapak           : (TERTAWA)
            “Menara Eiffel, Bu. Bukan menara Apel. Hahaha.”
Ibu        : “Halah, terserah apapun itu namanya. Bapak juga, kenapa dulu sering bercerita tentang menara itu ke Adelia. Jadinya anak kita punya mimpi yang terlalu tinggi.”
Bapak                       : (MAU MEMINUM KOPI, TETAPI BELUM JADI MEMINUM)
            “Loh,Loh, kok salah Bapak? Malah bagus kalau Adel punya mimpi besar. Bapak malah bangga sama anak kita satu-satunya itu ,Bu. Sudah cantik, pinter, baik dan punya mimpi besar. Sampai-sampai Nak Arkha yang anak DPR itu kepincut sama anak kita.”
Ibu      : (CEMBERUT)
            “Sudah, Pak. Lupakan mimpimu buat besanan sama Pak DPR. Anak kita galau yang gara-gara Nak Arkha dan Menara impiannya itu.”
Bapak           : (MENDEKATI IBU)
            “Kok bisa ku? Aku tidak bermimpi untuk besanan sama Pak DPR, tapi aku bermimpi bisa jadi mertuanya Nak Arkha. Nak Arkha itu sudah ganteng, baik, dan tidak pernah memandang orang dari kekayaan, Bu.”
Ibu      : “Iya... Ibu tahu, Pak. Ya sudahlah, Bapak minum dulu kopinya. Keburu dingin.”
Bapak           : (MENGAMBIL SECANGKIR KOPI DI ATAS MEJA DAN MEMINUMNYA)
            “Wah, iya Bu. Sampai lupa kopi buatan Ibu yang palaing enak sekampung kita ini. Hehehe”
Ibu      : (MALU-MALU)
            “Bapak ini, sudah tua kok masih kayak anak muda. Sudah ibu mau menyiapkan makan siang dulu.”
            (KELUAR PANGGUNG)
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketok. Bapak segera membuka pintu, dan mempersilakan tamunya untuk duduk.
Bapak           : (BERSALAMAN DENGAN TAMU (ARKHA))
“ Ech, Nak Arkha to. Saya kira siapa. Ayo mari-mari duduk. Lama saya tak berjumpa  sama Nak Arkha. Sudah sekira berapa bulannya? Tiga bulan mungkin. Hahaha. Bagaimana kabarmu ,Nak?” 
Arkha : (MENYERAHKAN SEKOTAK MARTABAK TELUR)
            “Iya ,Pak. Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Bapak sendiri bagaimana? Sehat kan?”
Bapak : (TERSENYUM)
“Wo... ya jelas sehat ,Nak. Bapak kan selalu olahraga. Hahaha. Beberapa bulan ini, kamu kemana? Tak pernah Bapak melihat batang hidungmu.”
Arkha            : “ Maaf, Pak. Saya baru ada urusan di luar kota. Ada proyek di Bandung.”
Bapak : “Alhamdulillah. Bapak doakan proyekmu lancar. Sebentar, Nak Arkha mau mencari Adelia? Oh iya... Bapak sampai lupa.”
              (BERTERIAK)
              “Bu... buatkan kopi satu, ada Nak Arkha ini.”
Arkha : “ Sudah, Pak. Tidak usah repot-repot.”
Bapak           : “Ah, repot darimana. Hanya secangkir kopi itu tidak ada repot sama sekali. Ya sudah, Bapak panggilkan Adelia dulu.”
              (KELUAR PANGGUNG)
              (BEBERAPA MENIT KEMUDIAN ADELIA MEMASUKI PANGGUNG)
Adelia           : “ Mas Arkha? Mas Arkha sudah pulang dari Bandung? Lama nian, Mas Arkha tak menemui Adel.”
Arkha : “ Maafkan Mas, Adel. Selama dua bulan Mas harus ke Bandung, mengurus proyek Papa yang disana. Mas sebenarnya juga ingin cepat-cepat ketemu dengan mu. Tapi apa daya.”
Adelia           : “Mas, kapan sampai di Solo?”
Arkha : “Kemarin sore. Dijemput Mang Ujang di Bandara. Kamu baik-baik saja, kan? Tak ada luka sedikitpun yang kau derita kan?”
              (TERTAWA MENGGODA)
Adelia           : “Mas ini bisa aja. Selalu saja begitu.”
              (ADEL DAN ARKHA TERTAWA)
Arkha : “Hmmm... bagaimana dengan rencanamu untuk melamar beasiswa? Kamu akan tetap melamar beasiswa itu meski aku melarang, atau kamu tidak jadi melamar beasiswa itu?”
              (suasana menjadi tegang)
Adelia : “Sudah Mas. Jangan bahas itu lagi. Aku belum sepenuhnya memutuskan”
              (MENUNDUK)
(BERDIRI, SESEKALI BERJALAN)
              “Paris. Kota yang aku dambakan, Mas. Kota yang menyimpan segala macam keindahan. Dulu, Bapak pernah menyuruhku untuk menjejakan kaki di kota cantik itu. Sekarang kesempatan itu datang. Tapi...”
              (TERDIAM)
Arkha : “Aku bukannya menghalangimu untuk pergi kesana. Tapi aku tak mau kau pergi lama.”
Adelia : “Hanya 3 tahun. Waktu itu singkat jika kamu mau menungguku. Aku ingin menggapai mimpiku untuk menjejakkan kaki di Paris. Aku ingin melihat kota Paris dari atas Menara Eiffel yang cantik itu. Aku ingin menuntut ilmu di Paris. Aku ingin semua tentang Paris.
Arkha : (BERDIRI MENDEKATI ADELIA)
              “Bagimu, mungkin terpisah denganku selama 3 tahun itu cepat. Bagiku, waktu itu bisa menghentikan denyut nadiku, Adel. Aku hanya ingin kamu disini, mendampingiku. Hanya itu, tak usah kau jauh ke negeri orang.”
Adelia           : “Sudah Mas. Aku tak ingin kita berdebat lagi mengenai Paris.”
Arkha : “Baik. Aku kesini untuk hubungan kita. Ku mohon, kamu dengar permintaanku ini.”
              (ADEL MENANGIS)
              “Aku hendak pamit pulang sekarang. Salam untuk Ibu dan Bapak. Assalamualaikum”
              (KELUAR PANGGUNG)
Adelia : “Waalaikumsalam”
              (DUDUK DIKURSI DAN MASING MENGUSAP AIR MATANYA.)
Ibu        : (MEMASUKI PANGGUNG DENGAN MEMBAWA NAMPANG YANG BERISI KOPI DAN BISKUIT)
              “Loh...kok tamunya sudah pulang. Adel, Nak Arkha mana?”
Adelia           : “Sudah pulang, Bu. Mas Arkha titip salam untuk Bapak dan Ibu.”
              (MASING TERISAK-ISAK)
Ibu        : (DUDUK DISAMPING ADELIA)
              “Kamu ini kenapa to nduk? Setiap hari kok cuma sedih terus. Apa kamu nggak merasa stress? Ayo cerita sama Ibu.”
Adelia           : (TERSENYUM)
              “Tidak , Bu. Sungguh, tak ada sedikit hal yang mengganggu Adel. Bu, Adel hendak kekamar sebentar. Adel mau mengisi formulir beasiswa itu.”
Ibu        : “Kamu sudah mantap nduk? Apa kamu sudah siap untuk ke negeri orang? Ibu jadi khawatir.”
Adelia           : “Bu, tekad Adel sudah bulat. Adel akan pergi ke Paris. Biarpun Mas Arkha melarang saya, menghalangi saya dan menangis didepan saya. Saya akan bersikukuh untuk menapakkan kaki saya di Paris, Bu. Ibu tahu kan, seberapa aku mencintai Paris, sejak kecil.”
Ibu        : “Iya... Ibu paham betul masalah itu. Tapi.... “
Bapak           : (BAPAK MEMASUKI PANGGUNG)
              “Bu, biarkan saja Adel memilih masa depannya. Adel sudah dewasa, Bu. Dia berhak memilih mana yang akan menjadi pilihannya. Ibu tidak usah khawatir begitu. Adel lekaslah kau isi formulir itu. Dan segera kau kirim ke pihak yang bersangkutan.”
Adelia           : (BERDIRI. KELUAR PANGGUNG)
              “Baik, Pak. Adel permisi dulu. Adel hendak mengisi formulir. Pak, Bu... Maafkan Adel yang egois ini. Adel tahu, Bapak dan Ibu sangat menginginkan Adel bersama Mas Arkha tapi Adel tak bisa, Pak, Bu.”
Bapak           : “Sudah sana. Kalau jodoh tak akan kemana.”
              (ADEL KELUAR DARI PANGGUNG)
              “Bu, janganlah kau berdiam durja begitu. Cantik kau hilang.”
Ibu        : “Bapak ini, selalu saja mengizinkan anak untuk bersekolah jauh. Dulu Bapak izinkan Adel untuk menuntut ilmu di Jakarta, sekarang malah lebih jauh. Ingat pak, anak kita cuma satu.”
Bapak           :“ Bu... jangan begitu, biarkan anakmu itu belajar negeri orang, disana dia akan bertambah ilmunya. Sudah, Bapak sudah lapar. Ayo kita makan siang, Bu.”
              (MENGAJAK IBU MAKAN SIANG. KELUAR PANGGUNG)
............................................
Adelia           : (MEMASUKI PANGGUNG. IA DUDUK DIKURSI SAMBIL MEMBACA BUKU DAN BELAJAR BAHASA PERANCIS.)
              “Formulir beasiswa sudah aku kirim, tapi sampai sekarang belum ada pemberitahuan. Mas Arkha pun sekarang tak ada kabar.”
              (MEMBOLAK-BALIK BUKU)
              “Sudah terima sajalah, nasibku yang tak sukses di asmara. Jangan-jangan benar ramalan Mang Ujang sewaktu awal tahun kemarin. Hehehe”
Arkha : (MEMASUKI PANGGUNG)
              “Assalamualaikum”
Adelia           : “Waalaikumsalam. Mas Arkha?”
Arkha : “Del, Mas kesini mau meminta doa. Aku hendak dikirim ke Amerika Serikat selama 3 tahun untuk mengurus proyek kerjasama Indonesia-Amerika di sana. Dan... Aku ingin meminta maaf atas keegoisanku yang memintamu untuk tetep disini. Padahal aku juga yang salah, malahan aku yang hendak meninggalkanmu disini.”
              (SEDIH)
Adelia           : “Kapan Mas akan berangkat ke Amerika?Bukan minggu ini,kan?”
Arkha : (TERTUNDUK)
              “Besok Adel”
Adelia           : “Besok? Terlalu cepat.”
              (DIAM)
(IBU DAN BAPAK MEMASUKI PANGGUNG)
Ibu        : (MEMBAWA AMPLOP SURAT BERWARNA COKLAT)
              “Adel, ini ada surat dari pihak beasiswa. Ech, Nak Arkha, maaf Ibu tak tahu kalau Nak Arkha kesini.”
              (DUDUK)
              (ARKHA BERSALAMAN)
Bapak           : “Ayo, Adel cepat kau buka surat itu. Kita tak sabar menunggu kelolosanmu.”
              (ADEL MEMBUKA SURAT DAN MEMBACA SURAT TERSEBUT)
Adel     : (SETENGAH BERTERIAK)
              “Bapak, Ibu, Mas Arkha,... Adel Lolos. Adel bakal ke Paris.”
              (ADEL DAN IBU PERPELUKAN)
              “Alhamdulillah, Tuhan terima kasih kau telah mengizinkanku untuk menapakan kaki di Kota Indah itu.”
Arkha : “Alhamdulillah, Aku turut bahagia. Aku janji, akan kembali untukmu. Walau tiga tahun menurutku sangat membunuh jika tak bersamamu, tapi aku akan coba menjalaninya.”
Bapak   : “Tetaplah bermimpi Adel dan terus kejarlah mimpimu sampai kau lemah tapi kau dapatkan mimpimu itu.”
Ibu        : “Bagaimana kalau kita mengadakan makan malam bersama untuk kelolosan Adel dan kesuksesan proyek Nak Arkha. Undang juga Bapak dan Ibu Nak Arkha.”
Arkha : “Wah, saya setuju sekali, Bu.”
(SEMUA KELUAR PANGGUNG. ARKHA DAN ADEL SALING BERPANDANGAN DAN MEREKA SALING MELEMPAR SENYUM)

-THE END-

Thursday, December 6, 2012

Sinopsis Perihal Orang Miskin yang Bahagia


Perihal Orang Miskin yang Bahagia
“ Aku sudah resmi jadi orang miskin” katanya, sambl memperlihatkan Kartu Tanda Miskin yang baru diperolehnya dari kelurahan. Kartu Tanda Miskin yang bersih, licin dan mengkilat karena delaminating itu disimpan di dompet lecek dan kosongnya.
Diam-diam aku suka mengintip rumah orang miskin itu. Ia sering duduk melamun dan bersendau gurau bersama istri dan anaknya yang dekil. Orang miskin itu dikenal ulet. Ia mau bekerja serabutan apa saja, mulai dari tukang becak, kuli angkut, buruh bangunan. Ia pernah mendatangi dukun untuk mengubah garis buruk tangannya. Tapi dukun itu berkata bahwa orang miskin itu mempunyai bakat miskin.
Ia pernah bercerita kepadaku, bahwasannya terkadang ia bosan hidup miskin. Ia pernah berniat jadi pelawak. Tapi karena melihat pengalaman temannya ia mengurungkan niatnya.
Orang miskin itu pernah bekerja sebagai badut dengan kostum rombeng dan menyedihkan. Tak khayal membuat anak-anak menangis. Akhirnya ia dipecat menjadi badut. Ia akrab sekali dengan lapar. Tiap kali lapar dating ia selalu mengajaknya untuk berkelekar sekedar melupakan penderitaan.
Yang menyenangkan, orang miskin itu memang suka melucu. Ia sering,menceritakan kisah-kisah orang miskin yang sukses kepadaku.  Ia memiliki tiga orang anak yang paling tua berumur 8 tahun dan bungsu belum genap 6 tahun.pernah suatu malam kami nongkrong di warung pinggir kali, ia suka memanjakan diri menikmati kopi dari hasil anaknya yang mengemis.saat seperti ini, aku sering memperhatikan raut wajahnya.
Wajah orang miskin itu mengingatkanku pada wajah yang selalu muncul setiap kali aku berkaca. Ia suka menghiburku, seperti tipe periang, tapi aku kerap melihatnya menyembunyikan isak tangisnya. Wajah itu diliputi kesedihan.
Bila lagi sedih orang miskin itu suka dating ke pegajian. Ia akan terkantuk-kantuk sepanjang ceramah tapi langsung semangat begitu makanan dibagi.
Orang miskin itu pernah ditangkap polisi. Saat dikampung sering terjadi pencurian, ia sebagai warga miskin, dituduh melakukan pencurian. Akhirnya ia dipukuli dan diintrogasi.
Banyak orang berkerumunan pada sore itu, kabarnya ada yang tewas, aku kira orang miskin itu yang tewas karena dipukuli warga. Ternyata perempuan yang baru melahirkan mati bunuh diri bersama anaknya.
Sekarang orang miskin itu memiliki kartu nama yang tertengger gagah bertuliskan jabatan : orang miskin. Ia telihat keren, ia sering keliling kampong sampil menenteng ponsel sambil bersiul .
Saat tubuhnya digerogoti penyakit, dengan entengnya ia pergi ke rumah sakit dengan bermodalkan Kartu Tanda Miskin. Beruntung sekali orang miskin itu memiliki anak dan istri yang tabah.
Suatu sore, orang miskin itu mengajak anak dan istrinya berbelanja ke mal. Mereka memborong apa saja yang mereka inginkan. Saat di kasir, ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin itu, tentu saja petugas keamanan langsung mengusirnya.
Ia tenang saat anak-anaknya tidak bisa sekolah. Ia berfikir sekolah itu tidak dapat merubah nasib mereka. Saat mendengar itu, aku kembali memasukan amplop yang hendak kuberikan ke orang miskin itu.
Takdir selalu punya cara yang tak terduga, tanpa firasat apa-apa, orang miskin itu mendadak mati. Anaknya terbengong melihat jasad ayahnya, sedangkan istrinya sedari tadi menangis, bukan karena sedih tapi bingung mau membelikan kain kafan pake apa.
Para pelayat sudah dongkol menunggu, “kapan hendak dikuburkan?” Tanya mereka. Karena merasa hanya bikin susah orang lain, orang miskin tadi memutuskan untuk kembali hidup. Sejak peristiwa itu, ia sering murung mungkin karena banyak orang yang mengolok-oloknya.
Nasib buruk terkadang memang kurang aja, suatu hari orang miskin itu berubah menjadi anjing. Anak-istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya.

Resensi novel Ini Memang Gila, Tapi ini Cinta


Salah Culik di Umur ke 17 Tahun
Judul buku       : 17 Tahun!
Pengarang       : Leyla Imtichanah
Penerbit           : Lingkar Pena Kreativa
Terbit               :  Februari 2008
Tebal               : 176 halaman
Ada dua sahabat yang bersekolah disalah satu sekolah pondok modern di Semarang. Mereka adalah Yasmin , cewek yang peringan anak seorang pengusaha sukses dan Nadira, cewek pendiam dan bersahaja, anak seorang DPR. Suatu hari, setelah melaksanakan ujian semesteran, mereka hendak pulang kerumah masing-masing. Yasmin akan pulang lebih dulu, sore hari tepat pukul empat ia sudah sampai di Stasiun Senen Jakarta. Ia menelpon sopirnya untuk menjemputnya di Stasiun Senen.
Tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang mengaku bahwa ia adalah sopir suruhan ayahnya. Yasmin pun percaya begitu saja dengan laki-laki itu. Saat diperjalanan, Yasmin sadar kalau jalan yang ia sedang lalui bukanlah jalan menuju rumahnya. Laki-laki itu pun mengaku kalau ia bukanlah seorang sopir suruhan ayahnya, melainkan seorang penculik. Yasmin sangat terkejut.
Tibalah mereka disuatu rumah yang jauh dari jalan raya. Yasmin disekap disana. Walaupun disekap Yasmin tak begitu takut, ia masih saja menjadi anak yang periang. Laki-laki yang menculiknya juga terheran-heran. Suatu hari penculik itu mendapatkan telepon dari bos nya. Yasmin mendengarkannya walau sayup-sayup ia dengar suaranya. Ia terkejut saat Si Bos menyuruh penculik itu untuk membunuhnya. Si bos menyuruhnya untuk membunuh Yasmin, tapi penculik itu tak sanggup. Karena Yasmin mirip dengan adiknya. Penculik itu bernama Hanif. Hanif menceritakan semua masa laluya kepada Yasmin. Salah satunya tentang adiknya yang kini berada di rumah sakit jiwa karena jiwanya terguncang.
Hari itu adalah hari dimana Yasmin lahir dan sekarang genap 17 tahun. Hanif mengetahuinya dari handphone Yasmin. Ia memberikan kue tart kepada Yasmin. Yasmin semakin yakin kalau Hanif bukanlah oang jahat melainkan ia terkena pengaruh buruk dari bosnya dan masa lalulnya.
Bos penculik itu mendatangi rumah tempat dimana Yasmin di sekap. Betapa marahnya bos penculik itu ketika tahu bahwa penculik itu salah meculik. Harusnya ia menculik Nadira bukan Yasmin. Karena tak mau membunuh Yasmin, Hanif membawa lari Yasmin untuk menyelamatkannya. Para anak buah lainnya mengerjar mereka berdua untuk dibunuh. Mereka harus melewati hutan bersembunyi di gua untuk keselamatan mereka.
Dilain sisi, keluarga Yasmin dan Nadira saya berharap-harap cemas. Mereka menghubungi polisi dan berusaha mencari sendiri. Tapi hasilnya nihil. Ibu Yasmin tergolek lemas membayangkan nasib putrinya ditangan penculik. Nadira meminta maaf kepada ibunya karena yang seharusnya diculik bukan Yasmin tapi nadira. Ibu Yasmin sudah memaafkannya ia menganggap ini adalah cobaan.
Setelah belari-lari menghindari anak buah bosnya, ia berhasil keluar dari hutan ia. Sebelumnya ia tertembak dibagian tangannya. Yasmin sangat tersentuh dengan kebaikan hari Hanif. Mereka menyetop taksi dan menuju kerumah Yasmin. Sesampai disana Hanif meminta maaf kepada keluarga Yasmin dan Nadiri. Yasmin menceritakan semua yang telah terjadi. Kemudian ayahnya, meminta bantuan polisi untuk menangkap bos penculik dan anak buahnya. Hanif diangkat sebagai salah satu manager di perusahaan ayahnya. Akhirnya Hanif bisa terlepas dari pengaruh negatif. Tak lupa setiap sebulan sekali Hanif mengunjungi adiknya dirumah sakit jiwa untuk memastikan keadaan adiknya. Semua berakhir bahagia.
Begitulah sinopsis dari novel berjudul 17 Tahun!, alur yang digunakan di novel ini sangat rapid an mudah dipahami. Terdapat unsur-unsur yang mana membuat hari kita senang, tersetuh dan tegang, semua perasaan ada di novel ini. Cerita yang disuguhkan juga sangat menarik, banyak kejadian yang mungkin juga terjadi di dunia nyata. Novel ini juga mengajarkan kemada kita tentang arti kehidupan dan sediki tentang keagamaan.
Selain itu, karena cerita ini menceritakan pihak ketiga, jadi perlu banyak kata yang menerangkan tentang apa saja yang dilakukan pihak ketiga, sehingga kata-katanya boros. Tampilan buku dari luar cukup menarik, tapi tampilan buku dalam tidak menarik. Novel ini layak dibaca bagi remaja dimana masa-masa remaja yang penuh cerita dan penuh pengalaman ini membuat remaja akan terlena dalam cerita ini. 

Contoh Narative Text about friendship


A Story of Friendship

One day, when I was a freshman in high school, I saw a kid from my class was walking home from school. His name was Kyle. It looked like he was carrying all of his books..I thought to myself, “Why would anyone bring home all his books on a Friday? He must really be a nerd.”I had quite a weekend planned (parties and a football game with my friends tomorrow afternoon), so I shrugged my shoulders and went on. As I was walking, I saw a bunch of kids running toward him. They ran at him, knocking all his books out of his arms and tripping him so he landed in the dirt. His glasses went flying, and I saw them land in the grass about ten feet from him. He looked up and I saw this terrible sadness in his eyes.
My heart went out to him. So, I jogged over to him as he crawled around looking for his glasses, and I saw a tear in his eye. As I handed him his glasses, I said, “Those guys are jerks. “They really should get lives.” He looked at me and said, “Hey thanks!”There was a big smile on his face. It was one of those smiles that showed real gratitude. I helped him pick up his books, and asked him where he lived. As it turned out, he lived near me, so I asked him why I had never seen him before. He said he had gone to a private school before now. I would have never hung out with a private school kid before. We talked all the way home, and I carried some of his books. He turned out to be a pretty cool kid. I asked him if he wanted to play a little football with my friends. He said yes.
We hung out all weekend and the more I got to know Kyle, the more I liked him, and my friends thought the same of him. Monday morning came, and there was Kyle with the huge stack of books again. I stopped him and said, “Boy, you are gonna really build some serious muscles with this pile of books everyday! “ He just laughed and handed me half the books.
Over the next four years, Kyle and I became best friends. When we were seniors we began to think about college. Kyle decided on Georgetown and I was going to Duke. I knew that we would always be friends, that the miles would never be a problem. He was going to be a doctor and I was going for business on a football scholarship.
Kyle was valedictorian of our class. I teased him all the time about being a nerd. He had to prepare a speech for graduation. I was so glad it wasn’t me having to get up there and speak. Graduation day, I saw Kyle. He looked great. He was one of those guys that really found himself during high school. He filled out and actually looked good in glasses. He had more dates than I had and all the girls loved him. Boy, sometimes I was jealous! Today was one of those days. I could see that he was nervous about his speech. So, I smacked him on the back and said, “Hey, big guy, you’ll be great!” He looked at me with one of those looks (the really grateful one) and smiled. “ Thanks,” he said.As he started his speech, he cleared his throat, and began. “Graduation is a time to thank those who helped you make it through those tough years. Your parents, your teachers, your siblings, maybe a coach...but mostly your friends... I am here to tell all of you that being a friend to someone is the best gift you can give them. I am going to tell you a story.” I just looked at my friend with disbelief as he told the story of the first day we met. He had planned to kill himself over the weekend. He talked of how he had cleaned out his locker so his Mom wouldn’t have to do it later and was carrying his stuff home. He looked hard at me and gave me a little smile. “Thankfully, I was saved. My friend saved me from doing the unspeakable.” I heard the gasp go through the crowd as this handsome, popular boy told us all about his weakest moment. I saw his Mom and dad looking at me and smiling that same grateful smile. Not until that moment did I realize it’s depth. Never underestimate the power of your actions. With one small gesture you can change a person’s life. For better or for worse. God puts us all in each others’ lives to impact one another in some way.

Sunday, November 4, 2012

Skenario Drama tentang KASIHMU IBU


KASIHMU IBU


Diceritakan bahwa Alif adalah seorang anak yang rajin dan patuh kepada ibunya. Diruang tengah, Alif mencurahkan isi hatinya kepada Ibu dan Kakaknya. Diam-diam Alif menyukai teman sekelasnya, Ana namanya.
Alif       : “ Ibu, Alif mau curhat nih. Wajar nggak sih, bu kalau Alif mulai suka sama cewek?”
Nana    : “ Ya wajar lah, masak kamu suka sama cowok.” (sambil baca buku)
Alif       : ” Yeee… aku nggak tanya sama kamu” (melempar kertas)
Nana    : “ Eh… kualat kamu”
Nurul   : “ Sudah-sudah. Kalian ini apa-apaan sih. Nggak baik berantem sama saudara sendiri”
Nana    : “ Alif tuh bu yang mulai duluan”
Alif       : “Kamu”
Nana    : “ Kamu”
Nurul   : “ Aduh … Sudah, ibu pusing dengarnya. Alif kalau kamu suka sama cewek itu wajar-wajar saja toh kamu sudah SMA kan?”
Alif       : “ Boleh, pacaran dong bu?”
Nurul   : “kamu boleh- boleh aja pacaran, asalkan kamu tisak lupa sama kewajibanmu sebgai pelajar, kamu harus tekun belajar”
Alif       : “ yang benar bu? Makasih bu, Alif janji nggak akan ngecewain ibu”
Beberapa hari kemudian, sepulang sekolah, tak ada angin tak ada hujan raut muka Alif berbeda dengan biasanya. Dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sedang kesal.
Alif       : “ Sebel” (sambil membanting tangnya kelantai)
Nurul R : “ Ada apa, Alif. Kenapa datang-datang sudah marah-marah begini”
Nurul S : “ Iya nih. Nggak sopan banget”
Alif       : “ Diam kalian semua” (nada meninggi) (Ibu dan adik kaget)
             “ Tak ada yang bisa dibanggakan dari keluarga ini lagi. Alif capek, tiap hari harus kerja keras.”
Nurul S : “ Kakak, kok ngomongnya gitu sama ibu.”
Alif       : “ Eh, kamu anak kecil masih bau kencur nggak usah sok tau ya.”
Nurul R : “ Astaghfirullah, ada apa dengan kamu , Alif?” (Matanya berkaca-kaca)
Alif       : “ Arrrrgghhhh… Percuma ngomong sama ibu.” (meninggalkan ruang tamu)
Nurul S : “ Ibu maafin kak Alif ya…”
Nurul R : “ Iya. Ibu maafin Kak Alif kok” (sambil menyeka air matanya)
Malam hari saat Alif sedang mengerjakan PR diruang tengah. Tiba-tiba kakaknya datang. Dengan raut muka sedih dan kecewa kakaknya menghampiri Alif.
Nana    : “Apa yang sudah kamu lakukan ke Ibu?”
Alif       : “Apa maksud kakak?”
Nana    : “ Alah… jangan pura-pura tidak tahu. Kamu udah bikin Ibu menangis.”
Alif       : “ Aku tidak merasa membuat Ibu menangis. Harusnya Ibu dapat hikmah dari kejadian ini.”
Nana    : “ Hikmah apa?” (matanya berkaca-kaca)
Alif       : “ Pelajaran untuk bisa lebih giat cari uangnya. Biar Alif bisa main bareng temen-temen.”
Nana    : “ Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Kamu bisa ngomong baik-baik pada ibu. Bukan dengan cara seperti itu.”
Alif       : “ Aku juga ingin pergi bareng temen-temen kak. Aku pengen seperti mereka yang punya apa saja yang mereka inginkan.”
Nana    : “Ekonomi keluarga kita sedang menipis, Alif. Kamu udah dewasa harusnya kamu bisa mengerti keadaan ini.”
Nurul R : “ Sudah Na, jangan kau teruskan perdebatan kusir ini. Ibu yang salah. Ibu yang tak bisa memenuhi kebutuhan kalian. Ibu terlalu lemah dan malas. Alif, terima kasih nak, tentang pelajaran yang kamu maksud. Ibu akan bekerja keras untuk memenuhi apa yang kamu minta. “ ( matanya berkaca-kaca dan tersenyum simpul)
Nana    : “ Ibu….” (kata-katanya tidak dilanjutkan dan ia meninggalkan ruang tengah)
Suasana hening sejenak. Ibu duduk di samping Alif hendak mengajaknya bicara. Tetapi Alif malah pergi meninggalkan Ibu sendiri. Ibu mengelus dada dan mencoba sabar.
Nurul R : “Ya Allah, Ya Tuhanku… Maafkanlah hamba, maafkanlah kelembahan hamba ini.  Berilah hamba kekuatan agar hamba dapat memenuhi kebutuhan anak-anak hamba” (berkata dalam hati. Menghela napas )
Suatu hari disekolah, tepatnya dikelas XI IPA 6, Alif sedang duduk dibangkunya. Tiba-tiba matanya tertuju pada segerombolan anak perempuan yang ada di bangku depan. Ana, Lysa dan Febryana sedang berbincang-bincang ringan.
Febry   : “ Ana, liat tuh. Kamu diliatin sama Alif loh.”
Febryana & Lysa : “ cieeee”
Lysa     : “ Iya. Kata Alvian, Alif suka sama kamu loh”
Ana      : “ Apaan sih. Kita tuh temen.” (sambil melirik ke alif)
Febry   : “ Eh… malah mikirin Alif lagi. Konsen ke Matematika dululah. “
Lysa     : “ Iya…iya.. tadi tuh iklan.hahaha “
Alif mendekati gerombolan Ana, Lysa dan Febryana.
Alif       : “ Hy… Ehm.. boleh gabung tidak?” (Ana, Lysa & Febryana saling berpandangan)
Ana      : “ Boleh kok”
Lysa     : “ Bagi Ana apa sih yang nggak buat kamu. Hahahha” (Ana menunduk)
Mereka belajar bersama. Sesekali Ana dan Alif melirik satu sama lain.
Alif       : “ Ana, boleh ngomong sebentar nggak?”
Ana      : “ Ehm… boleh”
Alif       : “mmmm anu.., sebenarnya, Kamu udah punya pacar belum sih?” (agak gugup)
Febry   : “ Belum-belum…!” (menyahut)
Lysa     : “hmmmm… Modus nih.”
Ana      : “ hih… kalian apaan sih?”
Febry   : “ kalau suka bilang saja. Toh Ana juga suka sama kamu” (menutup mulut)
Ana      : “ sssstttt”
Lysa     : “ tapi benar kan An ?”(muka ana memerah dan merasa malu dan salah tingkah)
Alif       : “ itu semua benar , An? Jadi kamu juga suka sama aku?”
Lysa dan febry : “ hmmm jujur sana” (sambil menyenggol ana)
Alif       :” an, aku boleh bicara jujur nggak sama kamu?”
Ana      :” emmmt”
Lysa     : “ boleh-boleh… “ (menyahut)
Febry   :” iya dengan senang hati.”
Ana      : “ hih.. kalian tuh apaan sih?”
Lysa     : “ udah nggak usah malu-malu gitu”
Febry   : “ yaudah lys, kita ke kamar mandi aja yuk!”
Lysa     “ “ yuk…”
Febry dan lysa : “da ana.. bye-bye”
Febry   :” Alif, good luck ya”
Alif       : “ okey pasti”
Ana      : “ oh, e.. tadi kamu mau bilang apa?”
Alif       :” emt.. sebenarnya aku tuh sudah lama suka sama kamu, tetapi selama ini aku malu mengungkapkan itu semua.
Ana      : “terus?”
Alif       : “ ya .. sekarang ini aku uda punya keberanian buat ngungkapin semuanya. Langsung aja ya… would you be my girl?”
Ana      : “ heh!!” (bimbang + seneng)
Alif       : “ gimana?”
Ana      : “ Ehmm.. ya. Aku mau”
Alif       : “ jadi sekarang kita udah jadian kan?”
Ana      : “menurut kamu?”
Alif       : “Iya dong, sayang”
Ana      : “ya… tapi nggak usah gitu juga kali, hehe”
Back sound : Taylor Swift - crazier
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Alvian masuk kedalam kelas. Ia memanggil Alif dan membisikkan sesuatu.
Alvian : “Hy…Alif. Aku cari kemana-kamana nggak tahunya kamu ada disini. Aku ada kabar bagus nih.” (menarik Alif menjauh dari Ana)
Alif       : “ sebentar ya aku tinggal dulu. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri?”
Ana      : “ ita, nggak apa-apa kok?”
Alfian : (berbisik). “Minggu depan ada balapan motor. Kita ditantang balapan sama Evan, anak SMA 3. Kita harus ikut Lif. Sayang kalau nggak ikut”
Alif       :” Ya. Kita harus ikut dan kita harus memenangkan balapan kali ini. Aku bosen selalu saja di ejek mereka.”
Alfian : “ Nah gitu dong.”
Dirumah, sepulang sekolah, Alif masuk rumah ia merengek meminta untuk dibelikan sepeda motor baru.
Alif       : “ Ibu, Alif minta beliin motor besuk.” (sedikit marah)
Nurul R : “ Alif, kamu kan bisa pakai sepeda motor kakakmu.” (sambil duduk diamping Alif)
Alif       : “ Alif pengennya yang motor cowok bu. Kalau pakai motor kakak, terkesan nggak gantle”
Nurul R : “ Tapi nak, motor seperti itu mahal harganya. Ibu blum punya uang sebesar itu untuk membeli motor”
Alif       : “ Alah… Alif nggak peduli. Pokoknya Alif pengen motor cowok. Hari Rabu harus sudah ada motor baru untuk Alif. Alif nggak pedli bagaimana caranya ibu memperoleh uang itu. Titik!”(melemparkan sepatunya. Menuju keruang makan)
Alif       : “ IBUUUUUU………….. Mana lauknya ? Lapar nih. Nggak ngerti banget anak baru pulang sekolah bukanya diiapin makan malah disiapin meja kosongan. Huft”
Nurul R : “Disitu ada temped an tahu, kan” (sambil mengambil piring tahu dan temped an memperlihatkannya pada Alif”
Alif : “Cuma temped dan tahu saja bu?huft” (menangkis piring dan pergi)
Nurul R : “Astaghfirullah Alif” (memungut tempe sambil menangis)
Monolog : “Wanita yang teramat suci… dia yang melahirkan mu. Menyusuimu. Menjagamu. Dan merawatmu. Rela ia menjagamu saat kau terlelap. Dia yang tak tega melihatmu sedih, memikirkan semua yang terjadi, tak tega melihatmu meneteskan air mata didunia yang hitam ini. Tak tega melihatmu kesusahan menghadapi rintangan yang menghalang. Ibu… dia lah wanita itu. Wanita yang suci, wanita yang terindah didunia ini, wanita yang selama ini kau sakiti, ibu…. Maafkan kelakukan ananda selama ini. Maafkan ananda yang lebih memilih bersama teman-teman ananda daripada menemanimu membunuh waktu sendirimu. Ibu…. Maafkan Ananda”
(Nurul tetep menangis tiba-tiba pingsan)
Lysa dan febry yang tadinya bermaksud memberikan bahan makalah untuk alif melihat Ibu Alif pingsan mereka langsung menolongnya.
Lysa     : “Astaghfirullah, ibu. Alif, Alif!!. Febry ayo kita bawa ke kursi dulu”
Febry   : “oh iya… ayo” (sambil membawa ibunya Alif kekursi). “Aku ambilin minum aja. Tapi dimana dapur nya?”
Lysa     : “ Itu disana. Buruan!” (Febryana mengambil minuman dan meminumkannya ke bu Nurul).(Bu Nurul sadar).
Febry   : “ Alhamdulillah, akhirnya Ibu sadar”
Lysa     : “ Iya. Mari bu kita bantu” (sambil menyandarkan Ibu Nurul ke kursi).
Nurul R: “ Terimakasih nak. Siapa kalian? Ada maksud apa kesini?”
Lysa     : “ Begini bu, saya Lysa dan teman saya ini Febry. Kami hendak bertemu dengan Alif. Mau memberikan bahan makalah untuk tugas bahasa Indonesia”
Febry   : “ Iya bu. Betul. Alif nya ada bu?” (sambil melihat lihat keisi rumah)
Nurul R : (menghela napas). “ Alif sedang keluar mungkin nak”
Tiba-tiba Nurul Siti (adiknya Alif) datang. Ia baru saja pulang sekolah.
Nurul S ; “ Assalamualaikum. Bu, Siti pulang. Ech.. ada kak Febry dan kak Lysa” (salim ke Ibu, Febry dan Lysa)
Lysa     : “ Hy Siti. Baru pulang ya?”
Nurul S : “ Iya kak. Ya sudah Siti kekamar dulu ya kak. Mari kak.” (menuju ke kamar).
Febry   : “ kalau begitu kami juga pamit pulang dulu bu. Ini kami titip tugas untuk Alif.”
Nurul R : “ Iya nak, nanti Ibu sampaikan” (berjabat tangan)
Lysa  dan Febry : “ Assalamua’alikum”
Ibu nurul kembali merenung. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba juga terlintas dibenaknya tentang kata-kata dokter muda didesanya. Terlintas dibenaknya untuk pergi menyendiri. Ia mengemasi barang-barangnya. Menulis surat untuk ketiga anaknya. Kemudian diletakkannya surat itu di meja makan. Bersama bahan makalah untuk Alif.
Nana    : “ Ibu,aku pulang” (Ia mencari kesana kemari. Tapi ia tak menemukan ibunya). “ Surat apa ini?” (membuka surat. Tiba-tiba air matanya menetes. Ia bersadar di kursi masih tetap menangis)
Alif       : “ Kenapa kak?”
Nana    : “ Semua ini gara-gara kamu!”
Alif       : “ Kenapa bisa salahku? Memangnya ada apa?”
Nana    : “ Baca surat ini” (menyerahkan surat) (Alif membaca suratnya perlahan air matanya menetes)
“Teruntuk anak-anakku Nana, Alif dan Siti.”
Maafkan ibumu yang lemah ini. Yang selalu merepotkan kalian. Membuat kalian jengkel. Maafkan ibu yang tak bisa memenuhi kebutuhan kalian. Ibu tahu, kalian tak ingin hidup susah seperti ini. Ibu sadari kalian telah beranjak dewasa. Kalian butuh ini dan itu dan maafkan ibu tak bisa memberikannya untukmu
Selama ini, bukan maksud Ibu untuk membuat kalian kesal, marah ataupun sedih. Ibu ingin kalian semua bahagian. Ibu ingin kalian tersenyum. Biarlah ibu yang menghadapi rintangan yang menghalang. Sebelumnya, Alif, maafkan ibu yang belum bisa membelikan apa yang kami inginkan. Maafkan Ibu nak. Ibu janji suatu hari, ibu akan kembali dan membelikanmu motor seperti yang kamu inginkan. Nana, jaga adik-adik mu. Tegarlah dengan semua ini. Ibu janji suatu hari nanti kita akan bertemu kembali.
Ibu pergi bukan karena tak sayang pada kalian. Ibu sangat sayang pada kalian. Ibu pergi untuk menenangkan hati Ibu. Maafkan keputusan Ibu mu yang lemah ini.
Ibu
Alif       : “ Ibu….”(menangis)” Maafkan Alif bu. Alif telah berdosa bu. Ibu….”
Nana    : “ Tak ada gunanya kamu menangis. Semua sudah terlambat”
Sebulan telah berlalu…..
Ana      : (sedang telepon)“Iya… aku lagi dirumah sakit.”
Suara dibalik telepon (febryana ) : “ ngapain? Siapa yang sakit?”
Ana      : “ karyawatinya Ayahku”
Ferbyana : “ Kamu sama siapa? Nanti jadikan kita latihan buat drama?”
Ana      : “ hmm.. sama Alif. Iya nanti aku sama Alif nyusul kalian aja ya… yasudah bye-bye”
Alif       : “ kita mau nengokin siapa sih, An?”
Ana      : “ Karyawatinya ayahku. Kasian banget Ibu itu. Dia pergi dari rumahnya, katanya sih dia pengen buat anaknya bahagia. Aneh ya… selama ini dia tinggal di gudang restoran ayahku.”
Alif       : “ Kasian ya Ibu itu. Aku jadi kepikiran Ibuku.” (menunduk)
Ana      : “ Sorry lif, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih.”
Alif       : “Iya nggak papa. Aku kangen Ibuku.”
Ana      : “ Yasudah. Kita tunggu disini dulu aja ya. Mungkin 15 menit lagi operasinya selesai”
Alif       : “ Sakit apa ibu itu?”
Ana      : “ Sakit ginjal. Kasian pokoknya. Bahkan saat sakit ibu itu nggak mau anaknya tahu kalau dia lagi sakit. Beliau nggak mau anaknya sedih. Ech… masuk yuk.”
Mereka memasuki kamar pasien.
Ana      : “ Ibu itu mungkin belum sadar”
Tiba-tiba Alif berhenti. Ia melangkah perlahan. Tiba-tiba air matanya jatuh dan menangis di samping pasien itu. Pasien itu adalah Ibunya yang selama ini pergi.
Alif       : “ Ibu…. Ibu ini Alif bu. Bangun Bu… Maafkan Alif. Ibu bangun!!! Maafkan Alif bu…” (menangis dan berteriak histeris)
Ana      : “ Alif… jadi ini … ini Ibu kamu yang selama ini pergi?”
Alif       : “ Iya An. Semua ini salah ku. Aku tak bisa melindungi Ibuku. Aku salah An. Ibu… bangunlah bu.”
Ana      : “ Sudah Alif. Ibumu baru saja menjalani operasi. Biarkan dia istirahat”
Alif       : “ Aku takut An, aku takut kehilangan Ibuku untuk kedua kalinya.”
Ana      : “ Tidak. Ibu mu akan sadar dan akan kembali ditengah-tengah kalian lagi. Ayo kita keluar dulu.”
Alif       : “ Tidak. Aku ingin disini bersama Ibuku. Aku ingin menemaninya disetiap detik.”
Ana      : “ Yasudah, aku telepon kakakmu dulu. Aku akan memberikan kabar ini untuknya.” (keluar ruangan.”
(melakukan sesuatu ex : nyapu aku merapikan tempat tidur ibunya. Dll)
 Backsound : Melly – Bunda
Nana, Siti, Ana, Lysa, dan Febry datang.
Nana    : “ Ibu….” (menangis disamping tempat tidur ibunya) “ bangun bu”
Alif       : “ kak… Maafin Alif ya”
(menarik alif kesudut)
Nana    : “ Saat Ibu sadar nanti, jangan kau sakiti lagi hati ibu. Kamu telah terlalu sering menyakiti ibu, Alif”
            Pada saat Nana sedang memarahi alif, tiba-tiba ibu tersadar. Nana dan Alif berlarian mendekati ibunya.
Nurul R : “ Nana, Alif, Siti….” (suaranyaa berat seperti menahan sakit) (semua mendekat ke Ibu)
Nana    : “ Ibu Akhirnya Ibu sadar… maafkan kami selama ini bu.”
Alif       : “ Maafkan Alif yang selalu menyakiti hati Ibu. Maafkan Alif bu.”(sambil mencium tangan ibunya dan menangis”
Nurul S : “ Siti juga minta maaf pada Ibu. Siti rindu ibu”
Nurul R : “sudah nak, sebelum kamu meminta maaf. Ibu sudah memaafkan kamu.”
Backsound : Reza – Cinta menbawamu kembali
Beberapa hari kemudian, setelah menjalani perawatan. Kondisi Ibu Nurul semakin membaik. Ibu sudah boleh kembali kerumah. Ana, Lysa dan Febry berkunjung ke rumah Alif dan membawa buah-buahan.
Ana      : “ Bagaimana bu keadaannya? Sudah sehat?”
Nurul R : “ Alhamdulillah sudah nak”
Ana      : “ Ibu dan ayah titip salam untuk ibu. Beliau berhalangan hadir mungkin besuk.”
Nurul R : “ Tak usah repot-repot Nak Ana. Ibu sangat berterimakasih dengan kebaikan hati keluarga Nak Ana yag telah membantu ini selama ini.”
Ana      : “ Sama-sama bu”
Ferby   : “ Alifnya kemana bu?”
Lysa     : “ Hush… kamu tuh”
Febry   : “ kali aja Ana mau ketemu Alif gitu, maksudnya”
Lysa     : “ terus gue mesti koprol sambil bilang WOW gitu??”
Febry   : “Iya , Wajib banget malah” (semua tertawa)
Nurul S : “ (membawa minuman) “ ini kak diminum dulu”
Ana, Lysa , Febry : “ Iya siti. Makasih” (kompak) Alif datang.
Nurul S :” kak, dicari Kak Ana tuh”
Semua : “Cieeee…”
Ana      : “ Apaan sih”
Semua : tertawa.
Backsound – Melly- bunda.
-THE END-